laporan alga
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Thallophyta adalah tumbuhan yang belum memiliki daun, akar
dan batang yang jelas dan Thallophyta merupakan tumbuhan yang bertalus termasuk
diantaranya adalah golongan jamur / fungi, bakteri dan ganggang / alga. Yang
termasuk golongan Thallophyta adalah ganggang (alga), jamur (fungi), dan lumut
kerak (lichenes). Alga merupakan kelompok organisme yang bervariasi baik
bentuk, ukuran, maupun komposisi senyawa kimianya. Alga ini tidak memiliki
akar, batang dan daun sejati. Tubuh seperti ini dinamakan talus. Alga
bereproduksi dengan aseksual dan seksual. Alga ada yang hidup secara soliter
dan berkoloni (Aslan, 1991.).
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apa saja jenis-jenis alga yang terdapat di pantai Kondang
Merak?
2. Bagaimana cara mengetahui klasifikasi dari jenis-jenis
alga yang terdapat di pantai Kondang Merak?
3. Bagaimana cara mengetahui ciri-ciri dari jenis alga yang
terdapat di pantai Kondang Merak?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui jenis-jenis alga yang terdapat di pantai
Kondang Merak.
2. Mengetahui klasifikasi dari jenis-jenis alga yang
terdapat di pantai Kondang Merak.
3. Mengetahui ciri-ciri dari jenis alga yang terdapat di
pantai Kondang Merak..
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat sebagai berikut:
1. Pengetahuan tentang dunia laut.
2. Memanfaatkan pembudidayaan botani di laut.
3. Informasi bagi para produsen tentang dunia laut.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 PHAEOPHYTA
2.1.1 Habitat
Pheophyta hanya mempunyai satu kelas yaitu Phaeophyceae.
Phaeophyceae pada umumnya hidup di laut, hanya beberapa jenis saja yang hidup
di air tawar. Sebagian besar Phaeophyceae merupakan unsure utama yang menyusun
vegetasi alga di lautan Artik dan Antartika, tetapi beberapa marga seperti
Dictyota, Sargassum, dan turbinaria merupakan alga yang khas untuk lautan
daerah tropis. Kebanyakan Phaeophyceae hidup sebagai litofit, tetapi beberapa
jenis dapat sebagai epifit atau endofit pada tumbuhan lain atau alga
makroskopik yang lain (Bold, 1978).
2.1.2 Susunan Tubuh
pada umumnya Phaeophyceae memiliki tingkat lebih tinggi
secara morfologi dan anatomi diferensiasinya dibandingkan keseluruhan alga.
Tidak ada bentuk yang berupa sel tunggal atau koloni (filamen yang tidak
bercabang). Susunan tubuh yang paling sederhana adalah filamen heterotrikus.
Struktur talus yang paling komplek dapat dijumpai pada alga perang yang
tergolong kelompok (Nereocystis, Macricystis, Sargassum). Pada alga ini
terdapat diferensiasi eksternal yang dapat dibandingkan dengan tumbuhan
berpembuluh. Talus dari alga ini mempunyai alat pelekat menyerupai akar, dan
dari alat pelekat ini tumbuh bagian yang tegak dengan bentuk sederhana atau
bercabang seperti batang pohon dengan cabang yang menyerupai daun dengan
gelembung udara (Bold, 1978).
2.1.3 Susunan Sel
Dinding sel dari semua Phaeophyceae mempunyai dinding dengan
lapisan bagian dalam dan lapisan bagian luar yang mengandung asam alginate dan
asam fusinat. Bentuk kloroplas pada kelompok yang rendah adalah bentuk bintang
dan lembaran axiler, tetapi pada kelompok yang tinggi berbentuk lembaran
parietal dan cakram. Cadangan makanan adalah laminarin dan manitol (Bold,
1978).
Alat gerak pada Phaeophyceae pada umumnya berupa flagella
yang letaknya lateral berjumlah dua dengan ukuran yang berbeda. Spermatozoid
fucus memiliki dua flagella yang letaknya lateral tetapi ukurannya yang lebih
kecil di atas dan yang panjang ada di bagian bawah. Sedangkan pada Dictyota
hanya mempunyai satu flagella (Bold, 1978).
2.1.4 Reproduksi
Menurut Dawes (1990) reproduksi dapat dilakukan
secaravegetatif, sporik, dan gametik. Reproduksi vegetatif umumnya dilakukan
fragmentasi talus.
1. Reproduksi sporik
Semua anggota dari Phaeophyceae kecuali anggota dari bangsa
Fucales melakukan reproduksi. Secara sporik melakukan zoospora atau aplanospora
yang masing-masing tidak berdinding. Zoospora tidak berdinding. Zoospora
dibentuk dalam sporangium bersel tunggal (unilokular) atau bersel banyak
(plurilokular).
Perkembangan dari sporangia yang unilokular dimulai dengan
membesarnya sel terminal dari cabang yang pendek. Sporangia terdapat inti
tunggal yang mengalami pembelahan meiosis diikuti dengan pembelahan mitosis.
Ketika pembelahan inti berhenti, terjadilah celah yang membagi protoplas
menjadi protoplas yang berinti tunggal. Masing-masing protoplas mengalami
metamorphose menjadi zoospora. Alat reproduksi yang prulilokular juga terbentuk
dari sel terminal dari cabangnya. Sel ini mengadakan pembelahan transversal
berulang-ulang sehingga terbentuk sederetan sel yang terdiri dari 6-12 sel.
Pembelahan sel secara vertikal dimulai dari sel yang letaknya di tengah.
2. Reproduksi Gametik
Reproduksi gametik dilakukan secara isogami, anisogami, dan
oogami. Gamet bisanya dibentuk dalam gametangia yang plurilokulrer atau yang
unilokuler pada gametofit. Zigot yang terbentuk tidak mengalami masa istirahat
dan langsung membentuk sporofit setelah terlepas dari gametofit. Pada beberapa
bangsa seperti Laminariales reproduksi bersifat oogami. Anterdium bersifat
plurilokuler misalnya pada Dictyota dan unilokuler pada Laminaria.
Menurut (Dodge, 1973) daur hidup pada Phaeophyceae terdapat
tiga tipe daur hidup:
a. Tipe isomorfik
b. Tipe heteromorfik
c. Tipe diplontik
2.2 RHODOPHYTA
Rhodophyta hanya mempunyai satu kelas yaitu Rhodophyceae
dengan anak kelas Bangiophycidae dan Florideophycidae. Kedua anak kelas
dibedakan berdasarkan pada kelompok. Florideophycidae terdapat noktah sedangkan
Bangiophycidae tidak ada. Tetapi menurut Sabbitthah (1999) sekarang telah
ditemukan hubungan noktah dan pertumbuhan apical pada beberapa anggota dari
Bangiophycidae di salah satu stadium dalam daur hidupnya, yaitu stadium
Conchoselis (suatu stadium filamentik dari Bangiophycidae yang berada di dalam
cangkang kerang). Sebaliknya pada beberapa Florideophycidae, misalnya
Delleseriaceae (bangsa Ceramiales) dan Corallinaceae (bangsa Cjryptonemiales)
tidak diketemukan daur hidup yang trifasik, maka dengan alasan tersebut di atas
kedua anak kelas tadi telah dihapus hingga pembagiannya langsung ke bangsanya
(Loveless, 1989).
2.2.1 Habitat
Pada umumnya hidup di lingkungan air laut, tetapi beberapa
yang hidup di air tawar, contoh: Batrachospermum. Distribusi luas di seluruh
dunia, sebagian besar tumbuh pada batu-batuan karang, beberapa jenis juga
epifit pada tumbuhan air kelompok tumbuhan tinggi (Angiosperm) atau pada
Rohodophyta yang lain, Phaeophyceae, Chlorophyceae (Loveless,1989).
2.2.2 Susunan Tubuh
Talus dari alga ini bervariasi mengenai bentuk tekstur dan
warnanya. Bentuk talus ada yang silindris, pipih dan lembaran. Rumpun yang
terbentuk oleh berbagai sistem percabangan ada yang tampak sederhana berupa
filament dan ada pula yang berupa percabangan yang komplek. Warna talus
bervariasi merah, ungu, coklat, dan hijau (Loveless, 1989).
2.2.3 Susunan Sel
Pada umumnya dinding sel terdiri dari dua komponen fibriler
awan membentuk rangka dinding dan komponen non fibriler berbentuk matrik. Tipe
umum dari komponen fibriler mengandung selulosa, sedangkan non fibriler
tersusun dari galaktan atau polimer dan galaktosa seperti agar, karaginin
porpiran (Pandey,1995).
Cadangan makanan pada Rhodophyceae adalah karbohidrat yang
tersimpan dalam bentuk granula yang terletak dalam sitiplasma. Granula akan
berwarna merah apabila diuji dengan potassium iodide dan disebut tepung
florodean. Cadangan makanan lain adalah florodosida (Pandey, 1995).
Pigmen terdiri dari klorofil a dan d, karotenoid, dan
fikobilia (fikoeritrin dan fikosianin). Keistimewaan dan sifat lain Rhodopyceae
adalah tidak ada sel yang dilengkapi alat gerak (Pandey, 1995).
2.2.4 Reproduksi
Rhodopyceae dapat melakukan reproduksisecara vegetative,
yaitu dengan fragmentasi talusnya. Akan tetapi cara demikian ini hanya terdapat
pada beberapa jenis tertentu saja. Rhodopyceae membentuk satu atau beberapa
macam spora yang tidak berflagel yaitu karpospora, spora netral, monospora,
bispora, tetraspora, atau polispora (Taylor, 1960).
Karpospora adalah spora yang terbentuk secara seksual, spora
ini terbentuk secara langsung atau tidak langsung dari zigot. Spora-spora
lainnya adalah spora aseksual. Spora netral adalah spora yang terbentuk
langsung dari sel vegetative yang mengalami metamorfosa. Monospora adalah spora
yang terbentuk dalam sporangium yang hanya menghasilkan satu spora saja
(Taylor, 1960).
Menurut Romimohtarto (2001) reproduksi gametik pada
Rhodopyceae berbeda dengan golongan alga lainnya dan untuk struktur yang
berkaitan dengan reproduksi ini, mempunyai erminology tersendiri. Alat kelamin
jantan disebut spermatangium, sel kelamin jantan tidak berflagella disebut
spermatium, dalam satu spermatangium hanya dibentuk satu spermatium saja. Alat
kelamin betina disebut karpogonium yang terdiri dari satu sel yang di bagian
ujung distalnya terdapat tonjolan yang disebut trikhogin, inti terdapat di
bagian dasar dari karpogonium. Spermatium yang dibebaskan dari spermatangium
terbawa gerakan air sampai trikhogin. Pada tempat menempelnya spermatium
terbentuklah lubang kecil sehingga inti dari spermatium dapat masuk ke dalam
trikhogin dan berimigrasi ke bagian dasar dari karpogium di mana inti karpogium
berada. Kedua inti bersatu dan terbentuklah zygot. Rhodophyceae yang tinggi
tingkatannya mempunyai daur hidup dengan pergantian keturunan yang bifasik dan
trifasik.
2.3 CHLOROPHYTA
Divisi Chlorophyta dibagi ke dalam dua kelas, yaitu kelas
Chlorophyceae dan kelas Charophyceae. Tetapi pada kesempatan ini akan membahas
kelas Chlorophyceae (Nontji, 1993).
2.3.1 Chlorophyceae
Alga ini merupakan kelompok terbesar dari vegetasi alga.
Perbedaan dengan divisi lainnya karena memiliki warna hijau yang jelas seperti
pada tumbuhan tingkat tinggi karena mengandung pigmen klorofil a dan klorofil b
lebih dominan dibangkan karotin dan xantofil. Hasil asimilasi dari beberapa
amilum, penyusunnya sama pula seperti pada tumbuhan tingkat tinggi .yaitu
amilose dan amilopektin (Nontji, 1993).
Alga berperan sebagai produsen dalam ekosistem. Berbagai
jenis alga yang hidup bebas di air terutama yang tubuhnya bersel satu dan dapat
bergerak aktif merupakan penyusun fitoplankton. Sebagian besar fitoplankton
adalah anggota alga hijau, pigmen klorofil yang demikian efektif melakukan
fotosintesis sehingga alga hijau merupakan produsen utama dalam ekosistem perairan
(Nontji, 1993).
Selain itu Chlorella salah satu dari anggota Chlorophyceae
memiliki nilai gizi sangat tinggi dibandingkan jenis jasad yang lain. Di dalam
sel Chlorella masih pula terdapat chlorelin yaitu semacam antibiotic yang dapat
menghambatpertumbuhan bakteri (Nontji, 1993).
2.3.2 Habitat
Alga hijau sebagian besar hidup di air tawar, beberapa di
antaranya di air laut dan air payau. Alga hijau yang hidup di laut tumbuh di
sepanjang perairan yang dangkal. Pada umumnya melekat pada batuan dan seringkali
muncul apabila air menjadi surut. Sebagian yang hidup di air laut merupakan
mikroalga seperti Ulvales dan Sphonales (Taylor, 1960).
Jenis yang hidup di air tawar biasanya bersifat kosmopolit,
terutama yang hidup di tempat yang cahayanya cukup seperti kolam, danau,
genangan air hujan, dan pada air mengalir (air sungai, selokan). Alga hijau
ditemukan pula pada lingkungan semi akuatik yaitu pada batu-batuan, tanah
lembab, dan kulit batang pohon yang lembab (Taylor, 1960).
2.3.4 Susunan Tubuh
Menurut Taylor (1960) susunan tubuh bervariasi baikdalam
ukuran, bentuk maupun susunannya. Untuk mencakup sejumlah besar variasi
tersebut, maka alga hijau dikelompokkan sebagai berikut:
1. Sel tunggal (uniseluler) dan motil, ex: Chlamydomonas
2. Sel tunggal (uniseluler) dan non motil, ex: Chlorella
3. Sel senobium, ex: Volvox, Pandorina
4. Koloni tak beraturan, ex: Tetraspora
5. Filamen tak bercabang, ex: Ulotrix, Oedogonium
6. Filamen bercabang, ex: Cladiphora, Pithophora
7. Heterotrikus, ex: Stigeoclonium
8. Parenkimatis, ex: Ulva
9. Tubular, ex: Caulerpa
2.3.5 Susunan Sel
Menurut Sulisetijono (2009) susunan sel pada Chlorophyceae
antara lain:
1. Dinding sel
Dinding sel tersusun atas dua lapisan bagian dalam tersusun
oleh selulose dan lapisan luar adalah pectin. Tetapi beberapa alga bangsa
Volvocales dindingnya tidak mengandung selulose, melainkan tersusun oleh
glikoprotein.
2. Kloroplas
Kloroplas terbungkus oleh sistem membran rangkap. Pigmen
yang terdapat dalam kloroplas yaitu klorofil a dan klorofil b, β karoten serta
berbagai macam xantofil (lutein, violaxanthin, zeaxanthin).
Menurut Sulisetijono (2009) kloroplas di dalam sel letaknya
mengikuti bentuk dinding sel (parieral) seperti pada Ulothrix atau di tengah
lumen sel (axial), contoh Muogolia. Pada umumnya satu kloroplas setiap sel
tetapi pada Siphonales, Zygnemales terdapat lebih dari satu kloroplas setiap
sel. Bentuk kloroplas sangat bervariasi, oleh karena itu penting untuk
klasifikasi dalam tingkatan marga. Variasi bentuk kloroplas adalah sebagai berikut:
a. Bentuk mangkuk, ex: Chlamydomonas
b. Bentuk sabuk, ex: Ulothrix
c. Bentuk cakram, ex: Chara
d. Bentuk anyaman, ex: Oedogonium
e. Bentuk spiral, ex: Spirogyra
f. Bentuk bintang, ex: Zygnema
Amilum dari Chlorophyceae seperti pada tumbuhan tingkat tinggi,
tersusun sebagai rantai glukosa yang tak bercabang yaitu amilose dan rantai
yang bercabang amilopektin. Seringkali amilum tersebut tebentuk dalam granula
bersama dengan badan proteindalam plastida disebut pirenoid. Tetapi beberapa
jenis tidak mempunyai pirenoid dan jenis yang demikian ini merupakan golongan
Chlorophyceae yang telah tinggi tingkatannya. Jumlah pirenoid umumnya dalam
tiap sel tertentu dan dapat digunakan sebagai bukti taksonomi (Loveless, 1989).
2.3.6 Perkembangbiakan
Menurut Sulisetijono (2009) perkembangbiakan pada
Chlorophyceae antara lain:
1. Secara Vegetatif
Perkembangbiakan vegetatif dilakukan dengan fragmentasi
tubuhnya dan pembelahan sel.
2. Secara Aseksual
Perkembangbiakan dengan cara membentuk sel khusus yang mampu
berkembang menjadi individu baru tanpa terjadi peleburan sel kelamin. Pada
umumnyaterjadi dengan spora, oleh karena itu sering disebut perkembangbiakan
secara sporik.
Zoospora dibentuk oleh sel vegetatif, tetapi beberapa
tumbuhan terbentuk dalam sel khusus disebut sporangia. Zoospora setelah periode
berenang beberapa waktu, berhenti pada subtrat yang sesuai, umumnya dengan
ujung anterior. Flagella dilepaskan dan terbentuk dinding, selama proses ini
alga mensekresikan lendir yang berperan untuk pertahanan diri (Sulisetijono
2009).
Menurut Sulisetijono (2009) selain dengan zoospore,
perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan pembentukan:
a. Aplanospora (Chlamydomonas caudata)
b. Hipnospora
c. Autospora (Chlorella)
3. Secara Seksual
Perkembangbiakan secara seksualbanyak dijumpai yaitu
isogami, anisogami, dan oogami. Meiosis dapat terjadi pada zigot yang
berkecambah atau pada waktu pembentukan spora atu gamet. Daur hihup umumnya
dijumpai adalah tipe haplontik, meskipun beberapa jenis termasuk tipe diplontik.
Isogami merupakan perkembangbiakan secara seksual yang
paling sederhana dan menuju ke arah anisogami. Pada tipe anisogami
masing-masing jenis merupakan sel bebas dengan ukuran yang tidak sama,
sedangkan yang lebih maju lagi yaitu tipe oogami. Pada tipe oogami,
masing-masing gamet ktelah menunjukkan perbedaan ukuran maupun bentuknya.
2.3.7 Dampak Positif dan Negatif Chlorophyta dalam Kehidupan
1. Menurut Dodge (1973) dampak positif antara lain :
a. Sebagai sumber protein sel tunggal contoh chlorela
b. Sebagai bahan makan contoh volvox sebagai sayuran
c. Sebagai plankton, merupakan salah satu komponen yang
penting dalam rantai makanan di perairan tawar
d. Menghasilkan O2 (oksigen) dan hasil fotositensis yang
diperlukan oleh hewan lain untuk bernafas
2. Menurut Dodge (1973) dampak negatif antara lain :
a. Dapat mengganggu jika perairan terlalu subur
b. Membuat air berubah warna dan menjadi bau
c. Menjadi masalah dalam proses penjernihan air
d. Menyebabkan penyumbatan pada saringan pengolahan air.
2.3.8 Akibat Pertumbuhan Algae Hijau Terhadap Kualitas Air
Menurut Dodge (1973) air yang dipergunakan sebagai air minum
harus memenuhi beberapa syarat antara lain, syarat fisika (tidak berbau,
jernih, tidak berasa dan tidak berwarna). Syarat kimia (tidak mengadung zat-zat
beracun tidak lebih dari standart yang telah ditetapkan) dan syarat biologis
(bakteri coli yang terkandung dalam air tidak boleh lebih dari standart yang
ditetapkan). Kehadiran alga hijau dalam air dapat meyebabkan :
1. Perubahan warna air
2. Air menjadi licin karena dapat menghasilkan lendir
3. Dapat menimbulkan bau dan rasa pada air
4. Dapat menyebabkan kerapuhan pada beton
Jenis ganggang hijau yang hidup di air tawar tidak
mengahasilkan racun Dari sifat-sifat yang tampak pada Chlorophyceae, dapat diambil
kesimpulan bahwa Chlorophyceae berasal dari flagellate yang setingkat mengalami
kemajuan-kemajuan perkembangan. Padanya ditemukan gambaran perkembangan dari
organisme yang sederhana ke yang makin menuju ke adanya pembagian pekerjaan.
talus heterotrik (yang terdiri atas pangkal yang melekat pada substrat dan
bagian yang bebas) dan kloroplas sederhana (Dodge, 1973).
2.4 Peranan Alga Bagi Manusia
Alga dapat dimanfaatkan sebagai produk komersil yang
memiliki nilai yang sangat tinggi, beberapa alga dapat dimanfaatkan untuk bahan
baku agar-agar misalnya Euchema, Rhodymenic, dan Gracilaria. Untuk bahan
industri misalnya Laminaria mengandung asam alginat sebagai bahan pengelmusi
zat, pembuatan cat, obat-obatan, dan kosmetik. Diatome mengandung asam kresik
berguna dalam pembuatan pasta gigi. Alga sebagai fitoplankton, hal ini
dimaksudkaan karena alga merupakan tumbuhan tingkat rendah yang mampu
berfotosintesis dan dalam ekosistem berkedudukan sebagai fitoplankton. Alga
sebagai bahan kultur laboratorium misalnya sebagai medium agar tempat
dikembangbiakkan jamur dan bakteri untuk mendapatkan antibiotic (Dodge, 1973).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 6-7 Juni 2009 hari
Sabtu- Minggu, di Pantai Kondang Merak Malang.
3.2. Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Botol Aqua
2. Plastik
3. Timba
4. Tali
3.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Air dari pantai Kondang Merak.
3.3. Cara Kerja
Langkah-langlah kerja pada penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Dicari alga dengan terjun langsung ke pantai ketika
keadaan surut.
2. Dimasukkan alga yang diperoleh ke dalam botol plastik.
3. Diamati dan dideskripsikan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hasil dari pengamatan air di Kondang Merak adalah sebagai
berikut:
Gambar Pengamatan Gambar Literatur
1. Ulva lactuca
(Anonymous, 2009)
2. Caulerpa sp.
(Anonymous, 2009)
3. Halimeda sp.
(Anonymous, 2009)
4. Padina sp.
(Anonymous, 2009)
5. Halycystic sp.
(Anonymous, 2009)
6. Laminaria sp.
(Anonymous, 2009)
7. Sargassum sp.
(Anonymous, 2009)
8. Euchema cotoni
4.2 Pembahasan
4.2.1 Alga Hijau (Chlorophyta)
1. Ulva lactuca
Klasifikasi:
Kingdom Plantae
Divisi Chlorophyta
Class Chlorophyceae
Ordo Ulvales
Famili Ulvaceae
Genus Ulva
Spesies Ulva lactuca
Ulva latuca habitatnya di air laut dan air payau. Warnanya
hijau, bentuknya berupa helaian atau lembaran-lembaran tipis. Susunan tubuhnya
foliaceaus atau parenkimatis, maksudnya filamen yang pembelahan sel vegetatif
terjadi lebih dari satu bidang Ulva lactuca mengahasilkan zat alginat untuk
kosmetik. Sifat khusus Ulva latuca, bentuknya yang berupa helaian atau
lembaran-lembaran tipis dan mengahasilkan zat alginat untuk kosmetik.
Ulva sp. sering disebut sebagai selada laut karena thallus
dari alga ini berbentuk lembaran yang menyerupa selada. Lembaran daun berwarna
hijau karena pengaruh dari kandungan klorofil a dan b. Biasa hidup berkoloni
dengan melekat pada substrat dengan bantuan holdfast (Anonymous, 2005).
Thallus pada spesies merupakan lembaran utama yang
bercabang, berbatasan dengan holdfast yang berfungsi sebagai alat melekat di
dasar perairan. Tubuh dari spesies ini memiliki lapisan lilin sehingga apabila
tekena panas akan mengkilap. Lapisan tersebut juga berfungsi untuk menghindari
hilangnya cairan tubuh saat terkena panas yang terjadi pada waktu surut tiba
(Pandey, 1995; Taylor, 1960).
Ulva sp. adalah alga yang berbentuk heterothalik, berkembang
biak secara aseksual dengan oospora berflagel empat yang terbentuk pada sel-sel
vegetatif, sedangkan secara seksual dengan peleburan sel-sel kelamin (Loveless,
1989).
2. Caulerpa sp
Klasifikasi:
Kingdom Plantae
Divisi Chlorophyta
Class Chlorophyceae
Ordo Volvocales
Famili Volvoceae
Genus Caulerpa
Spesies Caulerpa sp
Caulerpa sp. Susunan tubuhnya tubular yaitu talus yang
memiliki banyak inti tanpa sekat melintang. Diding selnya mengandung xylan atau
mannan. Bentuknya seperti rambut atau filament. Caulerpa sp bias menghasilkan
asam alginate sebagai bahan dasar kosmetik (Sulisetjono, 2009).
Caulerpa sp. termasuk ke dalam algae hijau (Chlorophyceae).
Bentuk tubuh dari spesies ini adalah senositik. Alga jenis ini memiliki bentuk
tubuh yang sangat spesifik karena menyerupai segerombolan buah anggur yang
tumbuh pada tangkainya. Spesies mempunyai cabang utama yang berupa axis/stolon
sehingga dimasukkan sebagai bangsa siphonales (stolon berbentuk seperti pipa).
Holdfast yang terdapat menyebar di seluruh axis berfungsi untuk melekat pada
substrat. Alga ini terdiri dari banyak spesies yang umumnya banyak dijumpai
pada pantai yang memiliki rataan terumbu karang. Spesies ini tumbuh pada
substrat karang mati, pasir yang berlumpur dan lumpur. Kebanyakan jenis ini
tidak tahan terhadap kondisi kering, oleh karena itu tumbuh pada saat surut
terendah yang masih tergenang air (Aslan, 1991).
3. Halimeda sp.
Talusnya seperti lembaran-lembaran, termasuk koloni
parenkimatus. Mampu menyerap karbon dan dalam dalam global warming berperan
untuk menstabilkan suhu.
Asal kata dari Halimeda sp. adalah halimos yang berarti
laut, mempunyai bentuk lempengan yang saling sambung-menyambung, tersusun dari
zat kapur yang mengeras dan diselingi oleh calcareous (jaringan non kapur) yang
fleksibel. Antar lempengan dihubungkan oleh sendi yang tersusun oleh crystal
aragonite secara acak dan bergerombol. Thallus tertambat pada substrat pasir
dengan holdfast fibrous (Taylor, 1960).
Menurut Anonim (2005b) spesifikasi alga ini adalah
pertumbuhan thalli kompak kandungan karbonat tinggi, tinggi 7 cm. Percabangan
utama dichotomus atau trichotomus. Segmen berlekuk-lekuk lebar 29 mm. Panjang
15 mm. Basal segmen lebar 21 mm dan panjang 20 mm. Holdfast lebar 17 mm dan
panjang 15 mm. Persebarannya banyak dijumpai pada substrat pasir, pasir lumpuran
dan pecahan karang. Dipaparan pasir tumbuh berasosiasi dengan tumbuhan lamun.
Keberadaan jenis ini banyak dijumpai di perairan laut
4. Padina sp.
Klasifikasi
Kingdom Plantea
Divisi Rhodophyta
Class Rhodophyceae
Ordo Dictyotales
Famili Padinaceae
Genus Padina
Spesies Padina sp.
Phaeophyta memiliki kromatofora berwarna cokelat karena
banyak mengandung pigmen fotosintetik fukosantin, disamping klorofil a. selnya
berflagel dua, tidak sama panjang. Seluruh devisi Phaeophyta bersifat
multiseluler dengan morfologi yang bervariasi dari filamen bercabang. Berbentuk
seperti batang, berdaun banyak, atau seperti pedang. Contohnya adalah
Sargassum, Padina, Turbinaria, dan Dictyota (Anonymous, 2009).
Spesies ini berbentuk seperti kipas dan mempunyai warna
coklat. Akarnya berbentuk serabut yang disebut holdfast untuk menempel kuat
pada substrat sehingga dapat digunakan untuk beradaptasi terhadap gerakan ombak
pada daerah intertidal. Di bagian yang menyerupai kipas terdapat garis-garis
horisontal yang disebut garis konsentris.. Di ujung daun terdapat penebalan
yang disebut penebalan gametangia yang berfungsi sebagai reproduksi gamet dan
pelindung daerah pinggiran daun agar tidak sobek karena ombak besar pada zona
pasang-surut (Anonymous, 2005).
Spesies ini tergolong ordo Dictyotales yang mempunyai bulu
cambuk dan sporangium beruang satu dan transparan, biasanya berkembangbiak
secara aseksual dengan oogonium. Satu oogonium merupakan satu sel telur dan
gamet jantan mempunyai satu bulu cambuk yang terdapat pada sisinya. Fase hidup
yang dilalui Padina adalah fase gametofit dan sporofit yang bergilir dan
beraturan (Dawes,1990).
5. Halycystic sp.
Halicystis sp. adalah alga dengan bentuk tubuh lonjong,
mendatar tanpa sekat melintang yang terdiri dari tonjolan-tonjolan (asimilator)
yang berisi sitoplasma dan klorofil. Tonjolan-tonjolan ini berfungsi sebagai
tempat fotosintesis. Aktifitas fotosinteis yang berpusat pada tojolan-tonjolan
ini, menyebabkan warnanya menjadi hijau tua. Selain sebagai asimilator,
tonjolan-tonjolan ini juga berfungsi sebagai mengapung ketika air pasang. Hanya
alat perkembangbiakannya saja yang memiliki pemisah berupa sekat. (Anonim,
2005a).
Spesies ini berbentuk seperti balon yang didalamnya terdapat
cairan/sitoplasma. Thallus spesies ini tidak memiliki dinding pemisah melintang
sehingga dinding selnya menyelubungi massa plasma yang mengandung banyak inti
dan plastida (Pandey, 1995).
4.2.2 Alga Coklat (Phaeophyta)
1. Sargassum sp.
Klasifikasi:
Kingdom Plantea
Divisi Phaeophyta
Class Phaeophyceae
Ordo Laminariales
Famili Laminariaceae
Genus Sargassum
Spesies Sargassum sp
Spesies ini berwarna coklat, mempunyai holdfast, axis
(cabang utama) dan branch. Tubuh alga ini didominasi oleh warna coklat
kekuningan, bentuk thallus silindris atau gepeng. Tubuh utama bersifat diploid
atau merupakan sporofit, thallus mempunyai cabang yang menyerupai tumbuhan
angiospermae, thalli agak gepeng, licin, batang utama bulat agak kasar. Spesies
ini memiliki air bladder yang berfungsi untuk mengapung jika terendam air pada
saat air di daerah intertidal pasang dan juga sebagai cadangan air saat terhempas
ketepian pantai Alga dari laut ini berasal dari daerah pantai. Saat mereka
terpatah dari induknya, mereka hanyut ke lepas pantai dan berkembang biak
disana. Sargasum sp. terus mengapung dengan bantuan air bladder dan tumbuh
secara vegetatif, perkembangbiakan melalui fragmentasi. (Sulisetijono, 2009).
Sargassum sp merupakan struktur talus yang paling kompleks
yang dapat dijumpai pada alga perang. Pada alga ini terdapat diferensiasi
ekternal yang dapat dibandingkan dengan tumbuihan berpembuluh. Talus dari alga
ini mempunyai alat pelekat menyerupai akar, dan dari alat pelekat itu tumbuh
bagian yang tegak dengan bagian sederhana atau bercabang seperti betang pohon
dengan batang menyerupai daun dengan gelembung udara (Sulisetjono, 2009).
Sargassum sp banyak terdapat di Indonesia, yang merupakan
alga yang khas untuk lautan daerah tropis. Sargassum sp digunakan sebagai bahan
kosmetik karena mengandung asam alginate (Anynimous, 2005).
Daunnya disebut lateral dan tulang daunnya disebut midrib.
Tangkai daun pendek dan bergerigi, tebal, licin dan kebanyakan asimetri.
Holdfastnya berperan penting untuk melekatkan diri pada substrat. Main axis
dapat dibedakan dengan branch dan thallusnya berwarna coklat kehijauan.
Reproduksi dengan peleburan dua sel gamet yang serupa atau berbeda. Kandungan
iodinnya tinggi, demikian pula dengan vitamin C dan protein (Anonymous, 2005).
2. Laminaria sp.
Klasifikasi:
Kingdom Plantea
Divisi Phaeophyta
Class Phaeophyceae
Ordo Laminariales
Famili Laminariaceae
Genus Laminaria
Spesies Laminaria sp.
Jenis-jenis yang termasuk bangsa laminariales mempunyai
sporofit yang dapat dibagi menjadi alat pelekat, tangkai dan belaian atau
lembaran. Pertumbuhan terjadi pada bagian yang meristematik yang letakknya
interkalar dan biasanya terletak di antara tangkai dan lembaran. Sporofit
mempunyai sporangia yang unilokuler dan terkumpul dalam suatu “Sorus” pada
permukaan lembaran. Beberapa marga tertentu, sporangianya terletak pada suatu
lembaran khusus (sporofit). Gametofit dari Laminariales berupa gilamen yang
mikroskopik, perkembangbiakan seksual bersifat oogamik. Bangsa ini mempunyai
marga 30 marga dengan kurang lebih 100 jenis yang kesemuanya merupakan penghuni
lautan di daerah beriklim dingin (Aslan, 1998).
Dari marga ke marga, gametofitnya dapat dikatakan identik
satu sama lain, tetapi sporofitnya mempunyai bentuk yang beraneka ragam.
Dilautan pasifik, sporofit dari ganggang ini terkenal dengan nama “kelp” dan
yang paling menarik adalah yagndisebut “giant kelp” atau ganggang perang
raksasa, ganggang-ganggang ini hidup di kedalaman 10-30 meter. Contoh:
Macrocytis pyrifera), mempunyai tangkai yang bercabang-cabang dan mencapai
panjang/tinggi 10-50 meter, pada tiap ujung dari tangkai tersebut, selalu
tumbuh helaian baru; Nereocystis luetkeana mempunyai tangkai yang tidak
bercabang, panjang/tinggi tangkai mencapa 20-25 m. tangkai tadi berakhir dengan
suatu gelembung udara yang besar, di atas gelembung ini terdapat cabang-cabang
dikhotom yang padanya terdapat helaian-helaian yang panjangnya mencapai 3-4, 5
m; postelsia palmaformis, terkenal dengan sebutan palm laut dan merupakan
“kelp” yang paling kecil, tumbuh di daerah batas pasang surut di pantai
berkarang yang dihadaptkan pada pukulan ombak di pasifik (Aslan, 1998).
4.2.3 Alga Merah (Rhodophyta)
1. Euchema cotoni
Klasifikasi :
Divisi Rhodophyta
Kelas Rhodophyceae
Sub kelas Florideophycidae
Bangsa Gigantinales
Suku Solieraceae
Marga Eucheuma
Jenis Eucheuma Cottoni
Eucheuma cottonii merupakan salah satu jenis rumput laut
merah (Rhodophyceae). Ciri fisik Eucheuma cottonii adalah mempunyai thallus
silindris, permukaan licin, cartilogeneus. Keadaan warna tidak selalu tetap,
kadang-kadang berwarna hijau, hijau kuning, abu-abu atau merah. Perubahan warna
sering terjadi hanya karena faktor lingkungan. Kejadian ini merupakan suatu
proses adaptasi kromatik yaitu penyesuaian antara proporsi pigmen dengan
berbagai kualitas pencahayaan. Umumnya Eucheuma cottonii tumbuh dengan baik di
daerah pantai terumbu (reef). Habitat khasnya adalah daerah yang memperoleh
aliran air laut yang tetap, variasi suhu harian yang kecil dan substrat batu
karang mati (Aslan, 1998).
Tumbuh melekat ke substrat dengan alat perekat berupa
cakram. Cabang-cabang pertama dan kedua tumbuh dengan membentuk rumpun yang
rimbun dengan ciri khusus mengarah ke arah datangnya sinar matahari (Aslan,
1998).
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Chlorophyceae ini berwarna hijau dan umumnya tersebar di
belahan bawah dari mintakat pasut. Kebanyakan spesies dari kelas ini nonmotil,
juga sangat tersebasar luas di perairan tropik.
2. Phaeophyta memiliki warna dominan coklat karena jumlah
karotenoid dan fukoxanthin yang besar di kloroplasnya, mempunyai gelembung
udara yang berfungsi sebagai alat pengepung dan menjaga tubuh untuk tetap tegak
dalam air.
3. Rhodophyta memiliki warna dominan merah karena terdapat
pigmen yang dominan adalah r-fikoeritrin ditambah pigmen lain seperti klorofil
a dan d, β karoten, fikobiloprotein, floriden, dan fikosianin. Tidak mempunyai
gelembung udara.
4. Sebagian besar spesies dari kelas Chlorophyceae,
Phaeophyceae dan Rhodophyceae mempunyai sistem atau organ tubuh yang dapat
menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
5. Kelas Chlorophyceae antara lain Halicystis sp.,
Enteromorpha sp., Halimeda sp., Codium sp., Caulerpa sp., Ulva sp. dan Spirogyra
sp.
6. Kelas Phaeophyceae antara lain Turbinaria sp., Sargassum
sp., Padina sp., Dictyota sp.
7. Contoh alga Rhodophyceae adalah: Amphiroa sp., Gelidium
sp., Gigartina sp., Laurencia sp., dan Acanthopora sp.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2005. Petunjuk Praktikum Biologi Laut. Jurusan
Perikanan. UGM. Yogyakarta.
Anonymous. 2005. Alga Hijau, Alga Merah, Alga Coklat.
Diakses 10 Juni 2009.
Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius.
Yogyakarta.
Bold, 1978. Introduction To The Algae, Structure and
Reproduction. New Delhi : Prentice Hall Of India.
Dawes, C. J. 1990. Marine Botany A Wiley Interscience.
Publication John Wiley & Sons. New York.
Dodge, J. D. 1973. The Fine Structure of Algae Cells.
Academic Press. London.
Loveless, A.R. 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk
Daerah Tropik 2. PT Gramedia. Jakarta.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan,
Jakarta.
Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan
Ekologis. Jakarta : PT Gramedia.
Pandey, S.N. 1995. A Textbook of Algae. Vikas Publishing:
Jakarta.
Taylor, W. R. 1960. Marine Algae of the Eastern Tropical and
Subtropical Coast of the Americas. New York : Ann Akbor the University of
Michigan Press.
Bookmark and Share
Read more: http://mahruz-lel.blogspot.com/2011/11/laporan-alga.html#ixzz2Cw5ytdLo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar