Jumat, 23 November 2012

SAINS ALGA


LAPORAN KEGIATAN KULIAH KERJA LAPANGAN
TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH

ALGA MERAH (RHODOPHYTA)

Dosen Pengampu:
Drs. Sulisetjono, M.Si
Ainun Nikmati Laily, M.Si

Oleh
Nama: KHAIRUNISA
NIM: 11620002



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM MAULANA MALIK IBRAHIM NEGERI
MALANG 2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Thallophyta adalah tumbuhan yang belum memiliki daun, akar dan batang yang jelas dan Thallophyta merupakan tumbuhan yang bertalus termasuk diantaranya adalah golongan jamur / fungi, bakteri dan ganggang / alga. Yang termasuk golongan Thallophyta adalah ganggang (alga), jamur (fungi), dan lumut kerak (lichenes). Alga merupakan kelompok organisme yang bervariasi baik bentuk, ukuran, maupun komposisi senyawa kimianya. Alga ini tidak memiliki akar, batang dan daun sejati. Tubuh seperti ini dinamakan talus. Alga bereproduksi dengan aseksual dan seksual. Alga ada yang hidup secara soliter dan berkoloni.
Alga merupakan protista yang bertalus memiliki pigmen dan klorofil. Tubuhnya terdiri atas satu sel (uniseluler) dan ada pula yang banyak sel (multiseluler). Alga berhabitat di laut yang tidak terlalu dalam karena alga membutuhkan sinar matahari untuk melakukan fotosintesis. Sehingga banyak spesies alga yang ditemukan dan dapat diidentifikasi dengan mudah.
Para ilmuwan telah memisah jenis alga berdasarkan warna pigmen tubuh agar dapat dipelajari dengan mudah oleh pelajar khususnya dan masyarakat secara umum. Jenis-jenis alga tersebut ialah rhodophita, chlorophyta,phaeophita,cynophyta. Oleh karenanya sekarng banyak penelitian tentang alga yang memiliki dampak positif bagi masyarakat.
Peranan alga semakin banyak, ada yang digunakan sebagai obat, alat rumah tangga, ada juga yang digunakan untuk sumber makanan. Sehingga penelitian tentang alga pun mulai berkembang dan semakin maju.
Penelitian tersebut salah satunya dilakukan di pantai kondang merak yang terletak Kabupaten Malang Selatan. Pantai ini masing termasuk pantai yang masih alami, banyak alga yang muncul di permukaan laut karena tekstur pantai yang berbatu  dan zona pasang dan surut yang terlalu dekat dengan daerah pesisir pantai. Sehingga alga bisa tumbuh baik dengan lingkungan yang memadai, selain itu pantai Kondang Merak ini belum terlalu terjamah manusia jadi pelestarian alga terjaga.
Alga yang ditemukan di Pantai Kondang Merak ini beraneka ragam dan berjumlah 30 spesies. Dan pada kelompok 2 yaitu kelompok kami, pada pengamatan Rhodophyta hanya menemukan 3 spesies.
1.2 Tujuan
Study lapangan keanekaragaman alga yang berhabitat di zona pasang surut pantai Kondang merak malang selatan.
1.3 Manfaat
Alga dapat dimanfaatkan sebagai produk komersil yang memiliki nilai yang sangat tinggi, beberapa alga dapat dimanfaatkan untuk bahan baku agar-agar misalnya Euchema, Rhodymenic, dan Gracilaria. Untuk bahan industri misalnya Laminaria mengandung asam alginat sebagai bahan pengelmusi zat, pembuatan cat, obat-obatan, dan kosmetik. Diatome mengandung asam kresik berguna dalam pembuatan pasta gigi. Alga sebagai fitoplankton, hal ini dimaksudkaan karena alga merupakan tumbuhan tingkat rendah yang mampu berfotosintesis dan dalam ekosistem berkedudukan sebagai fitoplankton. Alga sebagai bahan kultur laboratorium misalnya sebagai medium agar tempat dikembangbiakkan jamur dan bakteri untuk mendapatkan antibiotic , Dan pada kuliah kerja lapangan ini kami angkatan 2011 biologi dapat lebih mempererat hubungan silaturrahmi, dan memiliki kenangan bersama para dosen dan teman-teman, serta kami dapat melihat secara langsung alga-alga yang kami pelajari.


BAB II
METODOLOGI

2.1    Waktu dan Tempat
Study Lapangan yang dilaksanakan pada tanggal 15-16 Oktober 2012, Bertempat di Pantai Kondang Merak Malang Selatan tepat pada pukul 13.00-09.00 Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.

2.2    Alat dan Bahan
2.2.1        Alat-alat
1. Alat Tulis
2. Alat Dokumentasi (Camera)
3. Ice Box
4. Toples
2.2.2        Bahan-bahan
1.      Es
2.      Label
3.      Larutan Herbarium
a.       Larutan Fiksatif
·         Asam asetat glasial 5ml
·         Formalin 10 %
·         Etil Alkohol 80% 50 ml
b.      Larutan Timbang Sulfat
·         Tembaga sulfat 0,2 gr
·         Aqudes 35 ml
·         Alkohol 70%
2.3    Cara Kerja
1.      Ditunggu air Pantai Surut
2.      Dicari Alga-alga yang terdapat di Pantai
3.      Diamati Alga-alga tersebut
4.      Difoto Alga-alga untuk dijadikan dokumentasi
5.      Diambil Alga
6.      Dimasukkan Alga-alga kedalam ice box yang sudah berisi es batu
7.      Ditutup rapat ice box dengan lakban
8.      Diidentifikasi  Alga-alga di Laboratorium
9.      Direndam Alga didalam Larutan Fiksatif
10.  Ditambahkan Larutan Tembaga Sulfat (mempertahankan warna)
11.  Direndam selama 48 jam
12.  Diisi toples dengan Alkohol 70% sebgai pengawet
13.  Dimasukkan Alga-alga didalam toples
14.  Ditutup toples
15.   Diberi Label

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1    Calliblepharis fimbriata

4.      Gambar Pengamatan
Gambar Literatur




( Bold, 1978 )
Keterangan:
1.      memiliki holdfast
2.      stipe dan blade tidak bisa dibedakan
3.      memikili bintik kecil pada thallus

3.1.2 Klasifikasi Calliblepharis fimbriata (Bold, 1978).
Empire Eukaryota
      Kingdom Plantae
            Subkingdom Biliphyta
                   Phylum Rhodophyta
                          Subphylum Eurhodophytina
                                Class Florideophyceae
                                      Subclass Rhodymeniophycidae
                                           Order Gigartinales
                                                Family Cystocloniaceae
                                                     Genus Calliblepharis fimbriata
3.1.3 Pembahasan
Rhodophyta memiliki thallus yang bersel banyak (multiseluler), hanya beberapa jenis yang bersel tunggal. Thallus mempunyai bentuk yang beranekaragam. Sel memiliki plastida yang mengandung klorofil a, d, dan pigmen fotosintetik lainnya yaitu xantofil, fikobiliprotein (fikoeritrin dan fikosianin). Jumlah kedua pigmen ini sangat banyak sehingga menutupi klorofil dan menyebabkan ganggang ini berwarna merah. Semua pigmen berada dalam tilakoid kecuali fikobiliprotein yang terdapat pada bagian permukaan. Pigmen-pigmen ini dapat mengabsorpsi cahaya energi matahari yang kemudian cahaya itu ditransfer ke klorofil a, sehingga adanya pigmen ini mempunyai pengaruh langsung dalam proses fotosintesis. Cadangan makanan berupa tepung floridae, yaitu suatu karbohidrat dalam bentuk butiran-butiran kecil yang tersimpan dalam sitoplasma dan di luar plastid. Pada beberapa alga juga terdapat gula floridasida galaktosida dan gliserol. Dinding sel terdiri dari selulosa dan polisakarida yang menyerupai lender. Polisakarida ini adalah agar dan keragenan yang menyusun 70% dari berat kering dinding sel. Komponen dinding sel ini sangat menarik dan memiliki nilai komersiil yang sangat tinggi sebagai bahan stabilizer (Nontji, 1993).
Reproduksi pada jenis primitif secara aseksual, yaitu dengan cara membelah sel atau dengan spora, sedangkan reproduksi seksualnya belum banyak diketahui. Pada jenis-jenis yang lebih maju umumnya terdapat reproduksi aseksual dan seksual. Sel kelamin jantan dari alga ini tidak berflagel yang disebut spermatium. Spermatium ini secara pasif terbawa oleh arus air, kemudian melekat pada alat kelamin betina (karpogonium). Setelah itu inti dari masing-masing sel kelamin bersatu dan membentuk zigot (Nontji, 1993).
Rhodophyta mempunyai satu kelas yaitu Rhodophyceae. Kelas ini mempunyai 2 anak kelas, yaitu anak kelas Bungioidae dan anak kelas Plorideae. Sebaran alga merah sangat luas, tetapi banyak terdapat di perairan beriklim sedang. Beberapa jenis alga ini terdapat di daerah sebaran pasang surut, tetapi pertumbuhan yang subur terdapat di daerah bawah-pasang surut. Di perairan tropic alga ini umumnya terdapat di daerah bawah-litoral dimana cahaya sangat kurang. Mereka umumnya berukuran kecil. Sekelompok alga ini ada yang disebut Corallina,  yang menyadar kapur dari air laut. Alga ini terdapat di terumbu karang dan membentuk kerak merah muda pada batu karang dan batu cadas. Banyak alga ini yang mempunyai nilai ekonomis dan diperdagangkan yang dikelompokkan sebagai ekspor komoditi. Di Indonesia tercatat 17 marga yang terdiri dari 34 jenis. Marga alga tersebut diantaranya sebagai berikut (Dawes, 1990):
 1). Acanthophora terdiri dari dua jenis yang tercatat, yakni A. spicipera dan A. muscoides. Alga ini hidup menempel pada batu atau benda keras lainnya. Jenis yang pertama sebarannya di Indonesia sangat luas sedangkan yang kedua sebarannya kurang meluas dan terdapat di tempat tertentu.
 2). Actinotrichia (A. fragilis) terdapat di bawah pasang surut dan menempel pada karang mati. Sebarannya sangat luas terdapat pula di padang lamun.
 3). Amansia (A. glomerata) tumbuh melekat pada batu di daerah terumbu karang dan dapat hidup melimpah di padang lamun.
 4). Amphiroa (A. fragilissima) tumbuh menempel pada dasar perairan di rataan pasir atau menempel pada dasar substrat di lain di padang lamun. Sebarannya sangat luas.
 5). Chondrcoccus (C. hornemannii) tumbuh melekat pada substrat batu di ujung luar rataan terumbu yang senantiasa terendam air.
 6). Corallina belum diketahui jenisnya. Alga ini tumbuh di bagian luar terumbu yang biasa terkena ombak langsung. Sebarannya tidak begitu luas.
 7). Euchema adalah alga merah yang biasa ditemukan di bawah air surut rata-rata pada pasang surut bulan-setengah. Alga ini mempunyai thallus yang silindrik berdaging dan kuat dengan bintil-bintil atau duri-duri yang mencuat ke samping pada beberapa jenis. Thalusnya licin, warna alga ini ada yang tidak berwarna merah, tetapi hanya coklat-kehijauan kotor atau abu-abu dengan bercak merah. Di Indonesia tercatat empat jenis antara lain E. denticulatum (E. spinosum), E. edule, E. alvarezii (Kappaphycus alvarezii) dan E.serra.
 8). Galaxaura terdiri dari empat jenis, yakni G. kjelmanii, G. subfruticulosa, G. subverticillata, dan G. rugosa. Mereka tumbuh melekat pada substrat batu di rerataan terumbu.
 9). Gelidiella (G. acerosa) tumbuh menempel pada batu di daerah pasang hsurut atau bawah pasang surut. Alga ini muncul di permukaan air pada saat air surut dan mengalami kekeringan. Alga ini digunakan sebagai sumber alga yang diperdagangkan.
 10). Gigartina (G. affinis=Carpopertis affinis) tumbuh menempel pada batu di pelataran terumbu, terutama di tempat-tempat yang masih tergenang oleh air pada saat air surut.
 11). Gracilaria terdiri dari tujuh jenis, yakni G. arcuata, G. coronapifolia, G. folifera, G. eucheumioides, G. gigas, G. salicornia, dan G. verrucosa.
 12).  Halymenia terdiri dari dua jenis , yakni H. durvillae dan H. harveyuna. Mereka hidup di luar batu karang di luar pelataran terumbu karang yang selalu tergenang air.
 13). Hypnea terdiri dari yakni H. asperi dan H. servicirnis. Alga ini hidup di habitat berpasir atau berbatu, ada pula yang bersifat epifit dan penyebarannya luas.
 14). Laurencia terdiri dari tiga jenis yang tercatat, yakni L. intricata, L.nidifica dan L. obtus. Alga ini hidup melekat pada batu di daerah terumbu karang.
 15). Rhodimenia (R. palmata) hidup melekat pada substrat terumbu dan batu.
 16). Titanopyra (T. pulchra) dijumpai sangat jarang. Jenis ini terdapat di perairan Sulawesi.
 17. Porpyra adalah alga kosmopolitan. Marga alga ini  terdapat mulai dari perairan tropik sampai daerah subtropik, tetapi persebaran tegaknya sangat terbatas. Pada umumnya alga ini terdapat di daerah litoral, hidup di atas batu karang pada pantai yang terbuka serta bersalinitas tinggi. Meskipun demikian ada pula yang menyukai daerah muara sungai dengan pantai yang agak terlindung serta salinitas perairan yang relatif rendah, yaitu Porpyra tenera.

 
3.2 Amphiroa Beauvoisii Lamouroux
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur




( Bold, 1978.)

Nama Latin: Amphiroa beauvoisii;
Keterangan:
1.      memiliki holdfast
2.      stipe dan blade tidak bisa dibedakan
3.      memiliki thallus yang keras
3.2.2 Klasifikasi Amphiroa beauvoisii (Taylor, 2005):
Nama Latin: Amphiroa beauvoisii;
Kingdom:Plantae
      Divisi:Rhodophyta
            Kelas:Rhodophyceae
                 Bangsa:Cryptonemiales
                      Suku:Corallinaceae
                             Marga:Amphiroa
                                   Jenis:Amphiroa beauvoisii


3.2.3 Pembahasan
Spesifikasi:
Ciri-ciri umum. Alga tumbuh tegak, melekat pada substrat dengan semacam serabut cakram, warna merah, tinggi kurang dari 10 cm. Thallus mengalami pengapuran yang tebal, tersusun oleh deretan segmen-segmen berbentuk seperti manik-manik (Nybakken, 1992).
Sebaran:
Habitat. Hidup di zona pasang surut bagian tengah hingga subtidal. Menempel pada batu karang atau pecahan karang mati. Sering sebagai alge asosiasi pada padang Halimeda. Sebaran. Asli sebagai alge tropis. Mudah ditemukan di perairan kepulauan Nusan (Nybakken, 1992).
Alga merah atau Rhodophyta adalah salah satu filum dari alga berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Warna merah pada alga ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin dalam jumlah banyak dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan xantofil. Alga ini pada umumnya bersel banyak (multiseluler) dan makroskopis. Panjangnya antara 10 cm sampai 1 meter dan berbentuk berkas atau lembaran. Beberapa alga merah memiliki nilai ekonomi sebagai bahan makanan (sebagai pelengkap minuman penyegar ataupun sebagai bahan baku agar-agar). Alga merah sebagai bahan makanan memiliki kandungan serat lunak yang baik bagi kesehatan usus (Bold, 1978).

Habitat

Sebagian besar alga merah hidup di laut, banyak terdapat di laut tropika. Sebagian kecil hidup di air tawar yang dingin dengan aliran deras dan banyak oksigen. Selain itu ada pula yang hidup di air payau. Alga merah yang banyak ditemukan di laut dalam adalah Gelidium dan Gracilaria, sedang Euchema spinosum menyukai laut dangkal (Bold, 1978).

Perkembangbiakan

Alga merah berkembangbiak secara vegetatif dan generatif (Bold, 1978):
·                 Perkembangbiakan vegetatif ganggang merah berlangsung dengan pembentukan spora haploid yang dihasilkan oleh sporangium atau talus ganggang yang diploid. Spora ini selanjutnya tumbuh menjadi ganggang jantan atau betina yang sel-selnya haploid.
·                 Perkembangbiakan generatif ganggang merah dengan oogami, pembuahan sel kelamin betina (ovum) oleh sel kelamin jantan (spermatium). Alat perkembangbiakan jantan disebut spermatogonium yang menghasilkan spermatium yang tak berflagel. Sedangkan alat kelamin betina disebut karpogonium, yang menghasilkan ovum. Hasil pembuahan sel ovum oleh spermatium adalah zigot yang diploid. Selanjutnya, zigot itu akan tumbuh menjadi ganggang baru yang menghasilkan aplanospora dengan pembelahan meiosis. Spora haploid akan tumbuh menjadi ganggang penghasil gamet. Jadi pada ganggang merah terjadi pergiliran keturunan antara sporofit dan gametofit.

Manfaat

Alga merah dapat menyediakan makanan dalam jumlah banyak bagi ikan dan hewan lain yang hidup di laut. Jenis ini juga menjadi bahan makanan bagi manusia misalnya Chondrus crispus (lumut Irlandia) dan beberapa genus Porphyra. Chondrus crispus dan Gigortina mamilosa menghasilkan karagen yang dimanfaatkan untuk penyamak kulit, bahan pembuat krem, dan obat pencuci rambut. Alga merah lain seperti Gracilaria lichenoides, Euchema spinosum, Gelidium dan Agardhiella dibudidayakan karena menghasilkan bahan serupa gelatin yang dikenal sebagai agar-agar. Gel ini digunakan oleh para peneliti sebagai medium biakan bakteri dan fase padat pada elektroforesis gel, untuk pengental dalam banyak makanan, perekat tekstil, sebagai obat pencahar (laksatif), atau sebagai makanan penutup (Bold, 1978).

3.3          Actinotrichia fragilis (Forsskal)

Gambar Pengamatan
Gambar Literatur




( Bold, 1978.)
Keterangan:
1.              memiliki holdfast
2.              stipe dan blade tidak bisa dibedakan
3.              thallusnya kecil dan kaku
 
3.3.2 Klasifikasi Actinotrichia fragilis (Aulia Ratnasari, 2011):

Berikut ini merupakan klasifikasi dari Actinotrichia fragilis (Forsskal)
Kingdom        : Plantae
Subkingdom  : Biliphyta
Divisi             : Rhodophyta
Kelas              : Rhodophyceae
Ordo               : Nemaliales
Famili             : Galaxauraceae
Genus             : Actinotrichia
Jenis                : Actinotrichia fragilis

3.3.3 Pembahasan
Actinotrichia fragilis berupa ganggang merah dengan cabang sebesar 1 mm. Ganggang ini memiliki panjang mencapai 6 cm. Ganggang ini hidup pada batu karang yang terletak dibagian laut yang lebih dalam. Actinotrichia di manfaatkan sebagai bahan makanan manusia, makanan ternak, sumber protein, dan sebagai obat antibiotik (Loveless, 1989).
Spesifikasi:
Thallus bulat mengeras permukaan kasar. Membentuk rumpun rimbun dengan percabangan dichotomus (mendua arah). Melekat pada substrat dengan alat tempel (holdfast) yang kecil berbentuk cakram. Warna merah muda orange atau kadang-kadang pirang (Loveless, 1989).
Sebaran:
Tumbuh pada karang batu mati di rataan terumbu atau di padang lamun yang umumnya selalu terendam air (subtidal). Mempunyai sebaran yang luas (Loveless, 1989).Untuk sebarannya Actinotrichia fragilis (Forsskal) tumbuh pada karang batu mati di rataan terumbu atau di padang lamun yang umumnya selalu terendam air (subtidal). Mempunyai sebaran yang luas. Contoh negara yang menjadi daerah penyebaran Actinotrichia fragilis (Forsskal) anatara lain adalah Djibouti, Jepang, Kenya, Madagascar, Mauritius, Reunion, Africa Selatan, Tanzania, Piliphina, Samudra Pasifik. Actinotrichia fragilis ditemukan pada kedalaman 40-45 cm melekat pada batu karang. Talusnya memiliki percabangan dikotom. Warna awal adalah merah setelah pengawetan menjadi cokelat muda (Aslan, 1991)

Actinotrichia fragilis berupa ganggang merah dengan cabang sebesar 1 mm. Ganggang ini memiliki panjang mencapai 6 cm. Ganggang ini hidup pada batu karang yang terletak dibagian laut yang lebih dalam. Actinotrichia di manfaatkan sebagai bahan makanan manusia, makanan ternak, sumber protein, dan sebagai obat antibiotik7. Actinotrichia fragilis. Actinotrichia fragilis berupa ganggang merah dengan cabang sebesar 1 mm. Ganggang ini memiliki panjang mencapai 6 cm. Ganggang ini hidup pada batu karang yang terletak dibagian laut yang lebih dalam. Actinotrichia di manfaatkan sebagai bahan makanan manusia, makanan ternak, sumber protein, dan sebagai obat antibiotik. Actinotrichia fragilis (Forsskal) tumbuh pada karang batu mati di rataan terumbu atau di padang lamun yang umumnya selalu terendam air (subtidal). Mempunyai sebaran yang luas. Contoh negara yang menjadi daerah penyebaran Actinotrichia fragilis (Forsskal) anatara lain adalah Djibouti, Jepang, Kenya, Madagascar, Mauritius, Reunion, Africa Selatan, Tanzania, Piliphina, Samudra Pasifik  (Dodge, 1973).

Manfaat

Sejauh ini dari berbagai sumber yang telah dibaca Actinotrichia fragilis (Forsskal) masih belum ada yang memanfaatkan spesies ini. Karena mungkin belum ada yang mempelajari speises ini lebih jauh. (Pandey, 1995).
Ganggang ini hidup di laut dan kira-kira 50 jenis di air tawar bentuk tubuh seperti rumput sehingga disebut dengan rumput laut. Tubuh bersel banyak bentuk seperti lembaran, talusnya mikroskopik dan multiseluler. Warna merah karena mengandung pigmen fikoeritrin. Reproduksi aseksual dengan pembentukan macam-macam aplanospora (monospora, bispora. Tetraspora, polispora dan spora netral) sangat jarang terjadi fragmentasi. Sedangkan seksual melalaui peleburan antara spermatozoid dan ovum menghasilkan zigot. Zigot tumbuh menjadi ganggang merah. Contoh: Euchemma spinosum, Gelidium, Rhodymenia dan Scinata. Euchemma spinosum merupakan penghasil agar-agar di daerah dingin. Ganggang merah mempunyai pigmen yang disebut fikobilin yang terdiri dari fokoeritrin (merah) dan fikosianin (biru). Hal ini memungkinkan ganggang yang hidup di bawah permukaan laut menyerap gelombang cahaya yang tidak dapat diserap oleh klorofil. Kemudian pigmen ganggang ini menyampaikan energi matahari ke molekul klorofil (Loveless, 1989).

Alga merah banyak dimanfaatkan untuk pembuatan agar-agar, misalnya dari bangsa Gelidiales marganya Gelidium, bangsa Gigartinales marganya Gigartina, dan Agardhiella, Gracilaria serta Euchema. Dari bangsa Gigartinales yaitu Chodrus crispus menghasilkan carrageein, yaitu gel yang sering digunakan sebagai emulsifying agent (Loveless, 1989).

RHODOPHYTA
Rhodophyta hanya mempunyai satu kelas yaitu Rhodophyceae dengan anak kelas Bangiophycidae dan Florideophycidae. Kedua anak kelas dibedakan berdasarkan pada kelompok. Florideophycidae terdapat noktah sedangkan Bangiophycidae tidak ada. Tetapi menurut Sabbitthah (1999) sekarang telah ditemukan hubungan noktah dan pertumbuhan apical pada beberapa anggota dari Bangiophycidae di salah satu stadium dalam daur hidupnya, yaitu stadium Conchoselis (suatu stadium filamentik dari Bangiophycidae yang berada di dalam cangkang kerang). Sebaliknya pada beberapa Florideophycidae, misalnya Delleseriaceae (bangsa Ceramiales) dan Corallinaceae (bangsa Cjryptonemiales) tidak diketemukan daur hidup yang trifasik, maka dengan alasan tersebut di atas kedua anak kelas tadi telah dihapus hingga pembagiannya langsung ke bangsanya (Loveless, 1989).
Habitat
Pada umumnya hidup di lingkungan air laut, tetapi beberapa yang hidup di air tawar, contoh: Batrachospermum. Distribusi luas di seluruh dunia, sebagian besar tumbuh pada batu-batuan karang, beberapa jenis juga epifit pada tumbuhan air kelompok tumbuhan tinggi (Angiosperm) atau pada Rohodophyta yang lain, Phaeophyceae, Chlorophyceae (Loveless,1989).
Susunan Tubuh
Talus dari alga ini bervariasi mengenai bentuk tekstur dan warnanya. Bentuk talus ada yang silindris, pipih dan lembaran. Rumpun yang terbentuk oleh berbagai sistem percabangan ada yang tampak sederhana berupa filament dan ada pula yang berupa percabangan yang komplek. Warna talus bervariasi merah, ungu, coklat, dan hijau (Loveless, 1989).
Susunan Sel
Pada umumnya dinding sel terdiri dari dua komponen fibriler awan membentuk rangka dinding dan komponen non fibriler berbentuk matrik. Tipe umum dari komponen fibriler mengandung selulosa, sedangkan non fibriler tersusun dari galaktan atau polimer dan galaktosa seperti agar, karaginin porpiran (Pandey,1995).
Cadangan makanan pada Rhodophyceae adalah karbohidrat yang tersimpan dalam bentuk granula yang terletak dalam sitiplasma. Granula akan berwarna merah apabila diuji dengan potassium iodide dan disebut tepung florodean. Cadangan makanan lain adalah florodosida (Pandey, 1995).
Pigmen terdiri dari klorofil a dan d, karotenoid, dan fikobilia (fikoeritrin dan fikosianin). Keistimewaan dan sifat lain Rhodopyceae adalah tidak ada sel yang dilengkapi alat gerak (Pandey, 1995).
Reproduksi
Rhodopyceae dapat melakukan reproduksisecara vegetative, yaitu dengan fragmentasi talusnya. Akan tetapi cara demikian ini hanya terdapat pada beberapa jenis tertentu saja. Rhodopyceae membentuk satu atau beberapa macam spora yang tidak berflagel yaitu karpospora, spora netral, monospora, bispora, tetraspora, atau polispora (Taylor, 1960).
Karpospora adalah spora yang terbentuk secara seksual, spora ini terbentuk secara langsung atau tidak langsung dari zigot. Spora-spora lainnya adalah spora aseksual. Spora netral adalah spora yang terbentuk langsung dari sel vegetative yang mengalami metamorfosa. Monospora adalah spora yang terbentuk dalam sporangium yang hanya menghasilkan satu spora saja (Taylor, 1960).
Menurut Romimohtarto (2001) reproduksi gametik pada Rhodopyceae berbeda dengan golongan alga lainnya dan untuk struktur yang berkaitan dengan reproduksi ini, mempunyai erminology tersendiri. Alat kelamin jantan disebut spermatangium, sel kelamin jantan tidak berflagella disebut spermatium, dalam satu spermatangium hanya dibentuk satu spermatium saja. Alat kelamin betina disebut karpogonium yang terdiri dari satu sel yang di bagian ujung distalnya terdapat tonjolan yang disebut trikhogin, inti terdapat di bagian dasar dari karpogonium. Spermatium yang dibebaskan dari spermatangium terbawa gerakan air sampai trikhogin. Pada tempat menempelnya spermatium terbentuklah lubang kecil sehingga inti dari spermatium dapat masuk ke dalam trikhogin dan berimigrasi ke bagian dasar dari karpogium di mana inti karpogium berada. Kedua inti bersatu dan terbentuklah zygot. Rhodophyceae yang tinggi tingkatannya mempunyai daur hidup dengan pergantian keturunan yang bifasik dan trifasik (Taylor, 1960).

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Rhodophyta memiliki warna dominan merah karena terdapat pigmen yang dominan adalah r-fikoeritrin ditambah pigmen lain seperti klorofil a dan d, β karoten, fikobiloprotein, floriden, dan fikosianin. Tidak mempunyai gelembung udara.
Rhodophyta hanya mempunyai satu kelas yaitu Rhodophyceae dengan anak kelas Bangiophycidae dan Florideophycidae. Kedua anak kelas dibedakan berdasarkan pada kelompok. Florideophycidae terdapat noktah sedangkan Bangiophycidae tidak ada. Tetapi menurut Sabbitthah (1999) sekarang telah ditemukan hubungan noktah dan pertumbuhan apical pada beberapa anggota dari Bangiophycidae di salah satu stadium dalam daur hidupnya, yaitu stadium Conchoselis (suatu stadium filamentik dari Bangiophycidae yang berada di dalam cangkang kerang). Sebaliknya pada beberapa Florideophycidae, misalnya Delleseriaceae (bangsa Ceramiales) dan Corallinaceae (bangsa Cjryptonemiales) tidak diketemukan daur hidup yang trifasik, maka dengan alasan tersebut di atas kedua anak kelas tadi telah dihapus hingga pembagiannya langsung ke bangsanya (Loveless, 1989).
Ciri-ciri umum. Alge tumbuh tegak, melekat pada substrat dengan semacam serabut cakram, warna merah, tinggi kurang dari 10 cm. Thalli mengalami pengapuran yang tebal, tersusun oleh deretan segmen-segmen berbentuk seperti manik-manik.
Thallus bulat mengeras permukaan kasar. Membentuk rumpun rimbun dengan percabangan dichotomus (mendua arah). Melekat pada substrat dengan alat tempel (holdfast) yang kecil berbentuk cakram. Warna merah muda orange atau kadang-kadang pirang.
Alga merah dapat menyediakan makanan dalam jumlah banyak bagi ikan dan hewan lain yang hidup di laut. Jenis ini juga menjadi bahan makanan bagi manusia misalnya Chondrus crispus (lumut Irlandia) dan beberapa genus Porphyra. Chondrus crispus dan Gigortina mamilosa menghasilkan karagen yang dimanfaatkan untuk penyamak kulit, bahan pembuat krem, dan obat pencuci rambut. Alga merah lain seperti Gracilaria lichenoides, Euchema spinosum, Gelidium dan Agardhiella dibudidayakan karena menghasilkan bahan serupa gelatin yang dikenal sebagai agar-agar. Gel ini digunakan oleh para peneliti sebagai medium biakan bakteri dan fase padat pada elektroforesis gel, untuk pengental dalam banyak makanan, perekat tekstil, sebagai obat pencahar (laksatif), atau sebagai makanan penutup.

4.2 Saran
Sebaiknya pada pelaksanaan kuliah kerja lapangan lebih di perhatikan spesies-spesies yang belum pernah di lihat sebelumnya supaya dapat menambah pengetahuan kita.

DAFTAR PUSTAKA
Taylor, W. R. 2005. Petunjuk Praktikum Biologi Laut. Jurusan Perikanan. UGM. Yogyakarta.
Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius. Yogyakarta.
Bold, 1978. Introduction To The Algae, Structure and Reproduction. New Delhi : Prentice Hall Of India.
Dawes, C. J. 1990. Marine Botany A Wiley Interscience. Publication John Wiley & Sons. New York.
Dodge, J. D. 1973. The Fine Structure of Algae Cells. Academic Press. London.
Loveless, A.R. 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 2. PT Gramedia. Jakarta.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan, Jakarta.
Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta : PT Gramedia.
Pandey, S.N. 1995. A Textbook of Algae. Vikas Publishing: Jakarta.

1 komentar:

  1. salam kenal saya anisa mahasiswa IPB. saya mau tanya mengenai metode yang anda tulis: jadi alganya itu direndam dahulu di larutan fiksatif yang dicampur dengan larutan tembaga sulfat, selanjutnya larutanya diganti dengan alkohol 70% (penyimpanan alga) bukan? mohon penjelasanya :)...
    Oh ya ini metodenya dapat dari mana ya (sumber), soalnya saya ingin menggunakan metode ini untuk penelitian saya untuk saya sitasi.
    Kalau boleh jawabanya dikirim lewat e mail saya hya anisa23fahriza@gmail.com
    Terima kasih :) :)

    BalasHapus