LAPORAN KEGIATAN KULIAH
KERJA LAPANGAN
TAKSONOMI TUMBUHAN
RENDAH
ALGA MERAH (RHODOPHYTA)
Dosen Pengampu:
Drs. Sulisetjono, M.Si
Ainun Nikmati Laily,
M.Si
Oleh
Nama: KHAIRUNISA
NIM: 11620002

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN
TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM
MAULANA MALIK IBRAHIM NEGERI
MALANG 2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Thallophyta adalah tumbuhan yang belum memiliki daun,
akar dan batang yang jelas dan Thallophyta merupakan tumbuhan yang bertalus
termasuk diantaranya adalah golongan jamur / fungi, bakteri dan ganggang /
alga. Yang termasuk golongan Thallophyta adalah ganggang (alga), jamur (fungi),
dan lumut kerak (lichenes). Alga merupakan kelompok organisme yang bervariasi
baik bentuk, ukuran, maupun komposisi senyawa kimianya. Alga ini tidak memiliki
akar, batang dan daun sejati. Tubuh seperti ini dinamakan talus. Alga
bereproduksi dengan aseksual dan seksual. Alga ada yang hidup secara soliter
dan berkoloni.
Alga merupakan
protista yang bertalus memiliki pigmen dan klorofil. Tubuhnya terdiri atas satu
sel (uniseluler) dan ada pula yang banyak sel (multiseluler). Alga berhabitat
di laut yang tidak terlalu dalam karena alga membutuhkan sinar matahari untuk
melakukan fotosintesis. Sehingga banyak spesies alga yang ditemukan dan dapat
diidentifikasi dengan mudah.
Para ilmuwan telah
memisah jenis alga berdasarkan warna pigmen tubuh agar dapat dipelajari dengan
mudah oleh pelajar khususnya dan masyarakat secara umum. Jenis-jenis alga
tersebut ialah rhodophita, chlorophyta,phaeophita,cynophyta. Oleh karenanya
sekarng banyak penelitian tentang alga yang memiliki dampak positif bagi
masyarakat.
Peranan alga
semakin banyak, ada yang digunakan sebagai obat, alat rumah tangga, ada juga
yang digunakan untuk sumber makanan. Sehingga penelitian tentang alga pun mulai
berkembang dan semakin maju.
Penelitian tersebut
salah satunya dilakukan di pantai kondang merak yang terletak Kabupaten Malang
Selatan. Pantai ini masing termasuk pantai yang masih alami, banyak alga yang
muncul di permukaan laut karena tekstur pantai yang berbatu dan zona pasang dan surut yang terlalu dekat
dengan daerah pesisir pantai. Sehingga alga bisa tumbuh baik dengan lingkungan
yang memadai, selain itu pantai Kondang Merak ini belum terlalu terjamah
manusia jadi pelestarian alga terjaga.
Alga yang ditemukan
di Pantai Kondang Merak ini beraneka ragam dan berjumlah 30 spesies. Dan pada
kelompok 2 yaitu kelompok kami, pada pengamatan Rhodophyta hanya menemukan 3
spesies.
1.2 Tujuan
Study lapangan keanekaragaman alga yang berhabitat di
zona pasang surut pantai Kondang merak malang selatan.
1.3 Manfaat
Alga dapat dimanfaatkan sebagai produk komersil yang
memiliki nilai yang sangat tinggi, beberapa alga dapat dimanfaatkan untuk bahan
baku agar-agar misalnya Euchema, Rhodymenic, dan Gracilaria. Untuk bahan
industri misalnya Laminaria mengandung asam alginat sebagai bahan pengelmusi
zat, pembuatan cat, obat-obatan, dan kosmetik. Diatome mengandung asam kresik
berguna dalam pembuatan pasta gigi. Alga sebagai fitoplankton, hal ini dimaksudkaan
karena alga merupakan tumbuhan tingkat rendah yang mampu berfotosintesis dan
dalam ekosistem berkedudukan sebagai fitoplankton. Alga sebagai bahan kultur
laboratorium misalnya sebagai medium agar tempat dikembangbiakkan jamur dan
bakteri untuk mendapatkan antibiotic , Dan pada kuliah kerja lapangan ini
kami angkatan 2011 biologi dapat lebih mempererat hubungan silaturrahmi, dan
memiliki kenangan bersama para dosen dan teman-teman, serta kami dapat melihat
secara langsung alga-alga yang kami pelajari.
BAB II
METODOLOGI
2.1
Waktu dan
Tempat
Study
Lapangan yang dilaksanakan pada tanggal 15-16 Oktober 2012, Bertempat di Pantai
Kondang Merak Malang Selatan tepat pada pukul 13.00-09.00 Jurusan Biologi
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
2.2
Alat dan Bahan
2.2.1
Alat-alat
1.
Alat Tulis
2.
Alat Dokumentasi (Camera)
3.
Ice Box
4.
Toples
2.2.2
Bahan-bahan
1.
Es
2.
Label
3.
Larutan
Herbarium
a.
Larutan
Fiksatif
·
Asam asetat
glasial 5ml
·
Formalin 10 %
·
Etil Alkohol
80% 50 ml
b.
Larutan Timbang
Sulfat
·
Tembaga sulfat
0,2 gr
·
Aqudes 35 ml
·
Alkohol 70%
2.3
Cara Kerja
1.
Ditunggu air
Pantai Surut
2.
Dicari
Alga-alga yang terdapat di Pantai
3.
Diamati
Alga-alga tersebut
4.
Difoto
Alga-alga untuk dijadikan dokumentasi
5.
Diambil Alga
6.
Dimasukkan
Alga-alga kedalam ice box yang sudah berisi es batu
7.
Ditutup rapat
ice box dengan lakban
8.
Diidentifikasi Alga-alga di Laboratorium
9.
Direndam Alga
didalam Larutan Fiksatif
10. Ditambahkan Larutan Tembaga Sulfat (mempertahankan warna)
11. Direndam selama 48 jam
12. Diisi toples dengan Alkohol 70% sebgai pengawet
13. Dimasukkan Alga-alga didalam toples
14. Ditutup toples
15. Diberi Label
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
|
4. Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
![]() |
![]()
( Bold, 1978 )
|
Keterangan:
1. memiliki holdfast
2. stipe dan blade tidak bisa dibedakan
3. memikili bintik kecil pada thallus
Empire Eukaryota
Kingdom Plantae
Subkingdom Biliphyta
Phylum Rhodophyta
Subphylum Eurhodophytina
Class Florideophyceae
Subclass Rhodymeniophycidae
Order Gigartinales
Family Cystocloniaceae
Genus Calliblepharis fimbriata
Kingdom Plantae
Subkingdom Biliphyta
Phylum Rhodophyta
Subphylum Eurhodophytina
Class Florideophyceae
Subclass Rhodymeniophycidae
Order Gigartinales
Family Cystocloniaceae
Genus Calliblepharis fimbriata
3.1.3 Pembahasan
Rhodophyta memiliki thallus yang bersel banyak (multiseluler), hanya beberapa jenis yang
bersel tunggal. Thallus mempunyai
bentuk yang beranekaragam. Sel memiliki plastida yang mengandung klorofil a, d,
dan pigmen fotosintetik lainnya yaitu xantofil, fikobiliprotein (fikoeritrin
dan fikosianin). Jumlah kedua pigmen ini sangat banyak sehingga menutupi
klorofil dan menyebabkan ganggang ini berwarna merah. Semua pigmen berada dalam tilakoid kecuali
fikobiliprotein yang terdapat pada bagian permukaan. Pigmen-pigmen ini dapat mengabsorpsi cahaya
energi matahari yang kemudian cahaya itu ditransfer ke klorofil a, sehingga
adanya pigmen ini mempunyai pengaruh langsung dalam proses fotosintesis.
Cadangan makanan berupa tepung floridae, yaitu suatu karbohidrat dalam bentuk
butiran-butiran kecil yang tersimpan dalam sitoplasma dan di luar plastid. Pada
beberapa alga juga terdapat gula floridasida galaktosida dan gliserol. Dinding
sel terdiri dari selulosa dan polisakarida yang menyerupai lender. Polisakarida
ini adalah agar dan keragenan yang menyusun 70% dari berat kering dinding sel.
Komponen dinding sel ini sangat menarik dan memiliki nilai komersiil yang
sangat tinggi sebagai bahan stabilizer (Nontji, 1993).
Reproduksi pada jenis primitif secara aseksual, yaitu dengan cara membelah
sel atau dengan spora, sedangkan reproduksi seksualnya belum banyak diketahui.
Pada jenis-jenis yang lebih maju umumnya terdapat reproduksi aseksual dan
seksual. Sel kelamin jantan dari alga ini tidak berflagel yang disebut
spermatium. Spermatium ini secara pasif terbawa oleh arus air, kemudian melekat
pada alat kelamin betina (karpogonium). Setelah itu inti dari masing-masing sel
kelamin bersatu dan membentuk zigot (Nontji, 1993).
Rhodophyta mempunyai satu kelas yaitu Rhodophyceae. Kelas ini mempunyai 2
anak kelas, yaitu anak kelas Bungioidae dan
anak kelas Plorideae. Sebaran alga
merah sangat luas, tetapi banyak terdapat di perairan beriklim sedang. Beberapa
jenis alga ini terdapat di daerah sebaran pasang surut, tetapi pertumbuhan yang
subur terdapat di daerah bawah-pasang surut. Di perairan tropic alga ini umumnya terdapat di
daerah bawah-litoral dimana cahaya sangat kurang. Mereka umumnya berukuran
kecil. Sekelompok alga ini ada yang disebut Corallina,
yang menyadar kapur dari air laut. Alga ini terdapat di terumbu
karang dan membentuk kerak merah muda pada batu karang dan batu cadas. Banyak
alga ini yang mempunyai nilai ekonomis dan diperdagangkan yang dikelompokkan
sebagai ekspor komoditi. Di Indonesia tercatat 17 marga yang terdiri dari 34
jenis. Marga alga tersebut diantaranya sebagai berikut (Dawes, 1990):
1). Acanthophora terdiri
dari dua jenis yang tercatat, yakni A.
spicipera dan A. muscoides. Alga
ini hidup menempel pada batu atau benda keras lainnya. Jenis yang pertama
sebarannya di Indonesia sangat luas sedangkan yang kedua sebarannya kurang
meluas dan terdapat di tempat tertentu.
2). Actinotrichia (A. fragilis)
terdapat di bawah pasang surut dan menempel pada karang mati. Sebarannya sangat
luas terdapat pula di padang lamun.
3). Amansia (A. glomerata)
tumbuh melekat pada batu di daerah terumbu karang dan dapat hidup melimpah di
padang lamun.
4). Amphiroa (A. fragilissima) tumbuh
menempel pada dasar perairan di rataan pasir atau menempel pada dasar substrat
di lain di padang lamun. Sebarannya sangat luas.
5). Chondrcoccus (C.
hornemannii) tumbuh melekat pada substrat batu di ujung luar rataan terumbu
yang senantiasa terendam air.
6). Corallina belum
diketahui jenisnya. Alga ini tumbuh di bagian luar terumbu yang biasa terkena
ombak langsung. Sebarannya tidak begitu luas.
7). Euchema adalah alga
merah yang biasa ditemukan di bawah air surut rata-rata pada pasang surut
bulan-setengah. Alga ini mempunyai thallus yang silindrik berdaging dan kuat
dengan bintil-bintil atau duri-duri yang mencuat ke samping pada beberapa
jenis. Thalusnya licin, warna alga ini ada yang tidak berwarna merah, tetapi
hanya coklat-kehijauan kotor atau abu-abu dengan bercak merah. Di Indonesia
tercatat empat jenis antara lain E.
denticulatum (E. spinosum), E. edule, E. alvarezii (Kappaphycus alvarezii)
dan E.serra.
8). Galaxaura terdiri dari
empat jenis, yakni G. kjelmanii, G.
subfruticulosa, G. subverticillata, dan
G. rugosa. Mereka tumbuh melekat pada substrat batu di rerataan terumbu.
9). Gelidiella (G. acerosa)
tumbuh menempel pada batu di daerah pasang hsurut atau bawah pasang surut. Alga
ini muncul di permukaan air pada saat air surut dan mengalami kekeringan. Alga
ini digunakan sebagai sumber alga yang diperdagangkan.
10). Gigartina (G.
affinis=Carpopertis affinis) tumbuh menempel pada batu di pelataran
terumbu, terutama di tempat-tempat yang masih tergenang oleh air pada saat air
surut.
11). Gracilaria terdiri
dari tujuh jenis, yakni G. arcuata, G.
coronapifolia, G. folifera, G. eucheumioides, G. gigas, G. salicornia, dan G. verrucosa.
12). Halymenia terdiri
dari dua jenis , yakni H. durvillae dan H. harveyuna. Mereka hidup di luar batu
karang di luar pelataran terumbu karang yang selalu tergenang air.
13). Hypnea terdiri dari
yakni H. asperi dan H. servicirnis. Alga ini hidup di
habitat berpasir atau berbatu, ada pula yang bersifat epifit dan penyebarannya
luas.
14). Laurencia terdiri dari
tiga jenis yang tercatat, yakni L.
intricata, L.nidifica dan L. obtus. Alga
ini hidup melekat pada batu di daerah terumbu karang.
15). Rhodimenia (R. palmata)
hidup melekat pada substrat terumbu dan batu.
16). Titanopyra (T. pulchra)
dijumpai sangat jarang. Jenis ini terdapat di perairan Sulawesi.
17. Porpyra adalah alga
kosmopolitan. Marga alga ini terdapat mulai dari perairan tropik sampai
daerah subtropik, tetapi persebaran tegaknya sangat terbatas. Pada umumnya alga
ini terdapat di daerah litoral, hidup di atas batu karang pada pantai yang
terbuka serta bersalinitas tinggi. Meskipun demikian ada pula yang menyukai
daerah muara sungai dengan pantai yang agak terlindung serta salinitas perairan
yang relatif rendah, yaitu Porpyra tenera.
|
3.2 Amphiroa Beauvoisii
Lamouroux
Nama Latin: Amphiroa
beauvoisii;
Keterangan:
1. memiliki holdfast
2.
stipe dan blade tidak
bisa dibedakan
3. memiliki thallus yang keras
3.2.2 Klasifikasi Amphiroa beauvoisii (Taylor,
2005):
Nama Latin: Amphiroa
beauvoisii;
Kingdom:Plantae
Divisi:Rhodophyta
Kelas:Rhodophyceae
Bangsa:Cryptonemiales
Suku:Corallinaceae
Marga:Amphiroa
Jenis:Amphiroa beauvoisii
|
|
3.2.3
Pembahasan
Spesifikasi:
Ciri-ciri umum. Alga
tumbuh tegak, melekat pada substrat dengan semacam serabut cakram, warna
merah, tinggi kurang dari 10 cm. Thallus mengalami pengapuran yang tebal, tersusun oleh deretan segmen-segmen
berbentuk seperti manik-manik (Nybakken, 1992).
Sebaran:
Habitat. Hidup di zona pasang surut bagian
tengah hingga subtidal. Menempel pada batu karang atau pecahan karang mati.
Sering sebagai alge asosiasi pada padang Halimeda. Sebaran. Asli sebagai alge
tropis. Mudah ditemukan di perairan kepulauan Nusan (Nybakken, 1992).
Alga merah atau Rhodophyta
adalah salah satu filum
dari alga
berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Warna merah pada alga ini
disebabkan oleh pigmen
fikoeritrin dalam jumlah
banyak dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan xantofil. Alga ini pada
umumnya bersel banyak (multiseluler) dan makroskopis. Panjangnya antara 10 cm
sampai 1 meter dan berbentuk berkas atau lembaran. Beberapa alga merah
memiliki nilai ekonomi sebagai bahan makanan (sebagai pelengkap minuman
penyegar ataupun sebagai bahan baku agar-agar).
Alga merah sebagai bahan makanan memiliki kandungan serat
lunak yang baik bagi kesehatan usus (Bold, 1978).
Habitat
Sebagian besar alga merah hidup di laut, banyak terdapat
di laut tropika. Sebagian kecil hidup di air tawar
yang dingin dengan aliran deras dan banyak oksigen. Selain
itu ada pula yang hidup di air payau. Alga merah yang banyak ditemukan di laut
dalam adalah Gelidium dan Gracilaria, sedang Euchema spinosum
menyukai laut dangkal (Bold, 1978).
Perkembangbiakan
Alga merah berkembangbiak secara vegetatif
dan generatif (Bold, 1978):
·
Perkembangbiakan
vegetatif
ganggang merah berlangsung dengan pembentukan spora
haploid yang dihasilkan oleh sporangium
atau talus ganggang yang diploid. Spora ini selanjutnya tumbuh menjadi
ganggang jantan atau betina yang sel-selnya haploid.
·
Perkembangbiakan
generatif
ganggang merah dengan oogami, pembuahan sel kelamin betina (ovum) oleh
sel kelamin jantan (spermatium). Alat perkembangbiakan jantan disebut spermatogonium
yang menghasilkan spermatium
yang tak berflagel. Sedangkan alat kelamin betina disebut karpogonium,
yang menghasilkan ovum. Hasil pembuahan sel ovum oleh spermatium adalah zigot
yang diploid. Selanjutnya, zigot itu akan tumbuh menjadi ganggang baru yang
menghasilkan aplanospora
dengan pembelahan meiosis. Spora haploid akan tumbuh menjadi ganggang penghasil gamet. Jadi
pada ganggang merah terjadi pergiliran keturunan antara sporofit
dan gametofit.
Manfaat
Alga merah dapat menyediakan makanan dalam
jumlah banyak bagi ikan dan hewan lain yang hidup di laut. Jenis ini juga
menjadi bahan makanan bagi manusia
misalnya Chondrus crispus (lumut Irlandia) dan
beberapa genus Porphyra.
Chondrus crispus dan Gigortina mamilosa menghasilkan karagen yang dimanfaatkan untuk penyamak kulit,
bahan pembuat krem, dan obat pencuci rambut. Alga
merah lain seperti Gracilaria
lichenoides, Euchema spinosum, Gelidium dan Agardhiella
dibudidayakan karena menghasilkan bahan serupa gelatin yang
dikenal sebagai agar-agar. Gel ini digunakan oleh para peneliti sebagai
medium biakan bakteri dan fase padat pada elektroforesis gel,
untuk pengental dalam banyak makanan,
perekat tekstil,
sebagai obat pencahar (laksatif), atau sebagai makanan penutup (Bold,
1978).
RHODOPHYTA
Rhodophyta hanya mempunyai satu kelas yaitu Rhodophyceae dengan anak
kelas Bangiophycidae dan Florideophycidae. Kedua anak kelas dibedakan
berdasarkan pada kelompok. Florideophycidae terdapat noktah sedangkan
Bangiophycidae tidak ada. Tetapi menurut Sabbitthah (1999) sekarang telah
ditemukan hubungan noktah dan pertumbuhan apical pada beberapa anggota dari
Bangiophycidae di salah satu stadium dalam daur hidupnya, yaitu stadium
Conchoselis (suatu stadium filamentik dari Bangiophycidae yang berada di
dalam cangkang kerang). Sebaliknya pada beberapa Florideophycidae, misalnya
Delleseriaceae (bangsa Ceramiales) dan Corallinaceae (bangsa Cjryptonemiales)
tidak diketemukan daur hidup yang trifasik, maka dengan alasan tersebut di
atas kedua anak kelas tadi telah dihapus hingga pembagiannya langsung ke
bangsanya (Loveless, 1989).
Habitat
Pada umumnya hidup di
lingkungan air laut, tetapi beberapa yang hidup di air tawar, contoh:
Batrachospermum. Distribusi luas di seluruh dunia, sebagian besar tumbuh pada
batu-batuan karang, beberapa jenis juga epifit pada tumbuhan air kelompok
tumbuhan tinggi (Angiosperm) atau pada Rohodophyta yang lain, Phaeophyceae,
Chlorophyceae (Loveless,1989).
Susunan Tubuh
Talus dari alga ini
bervariasi mengenai bentuk tekstur dan warnanya. Bentuk talus ada yang
silindris, pipih dan lembaran. Rumpun yang terbentuk oleh berbagai sistem
percabangan ada yang tampak sederhana berupa filament dan ada pula yang
berupa percabangan yang komplek. Warna talus bervariasi merah, ungu, coklat,
dan hijau (Loveless, 1989).
Susunan Sel
Pada umumnya dinding
sel terdiri dari dua komponen fibriler awan membentuk rangka dinding dan
komponen non fibriler berbentuk matrik. Tipe umum dari komponen fibriler
mengandung selulosa, sedangkan non fibriler tersusun dari galaktan atau
polimer dan galaktosa seperti agar, karaginin porpiran (Pandey,1995).
Cadangan makanan pada
Rhodophyceae adalah karbohidrat yang tersimpan dalam bentuk granula yang
terletak dalam sitiplasma. Granula akan berwarna merah apabila diuji dengan
potassium iodide dan disebut tepung florodean. Cadangan makanan lain adalah
florodosida (Pandey, 1995).
Pigmen terdiri dari
klorofil a dan d, karotenoid, dan fikobilia (fikoeritrin dan fikosianin).
Keistimewaan dan sifat lain Rhodopyceae adalah tidak ada sel yang dilengkapi
alat gerak (Pandey, 1995).
Reproduksi
Rhodopyceae dapat
melakukan reproduksisecara vegetative, yaitu dengan fragmentasi talusnya.
Akan tetapi cara demikian ini hanya terdapat pada beberapa jenis tertentu
saja. Rhodopyceae membentuk satu atau beberapa macam spora yang tidak
berflagel yaitu karpospora, spora netral, monospora, bispora, tetraspora,
atau polispora (Taylor, 1960).
Karpospora adalah
spora yang terbentuk secara seksual, spora ini terbentuk secara langsung atau
tidak langsung dari zigot. Spora-spora lainnya adalah spora aseksual. Spora
netral adalah spora yang terbentuk langsung dari sel vegetative yang
mengalami metamorfosa. Monospora adalah spora yang terbentuk dalam sporangium
yang hanya menghasilkan satu spora saja (Taylor, 1960).
Menurut Romimohtarto
(2001) reproduksi gametik pada Rhodopyceae berbeda dengan golongan alga
lainnya dan untuk struktur yang berkaitan dengan reproduksi ini, mempunyai
erminology tersendiri. Alat kelamin jantan disebut spermatangium, sel kelamin
jantan tidak berflagella disebut spermatium, dalam satu spermatangium hanya
dibentuk satu spermatium saja. Alat kelamin betina disebut karpogonium yang
terdiri dari satu sel yang di bagian ujung distalnya terdapat tonjolan yang
disebut trikhogin, inti terdapat di bagian dasar dari karpogonium. Spermatium
yang dibebaskan dari spermatangium terbawa gerakan air sampai trikhogin. Pada
tempat menempelnya spermatium terbentuklah lubang kecil sehingga inti dari
spermatium dapat masuk ke dalam trikhogin dan berimigrasi ke bagian dasar
dari karpogium di mana inti karpogium berada. Kedua inti bersatu dan
terbentuklah zygot. Rhodophyceae yang tinggi tingkatannya mempunyai daur
hidup dengan pergantian keturunan yang bifasik dan trifasik (Taylor, 1960).
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Rhodophyta memiliki
warna dominan merah karena terdapat pigmen yang dominan adalah r-fikoeritrin
ditambah pigmen lain seperti klorofil a dan d, β karoten, fikobiloprotein,
floriden, dan fikosianin. Tidak mempunyai gelembung udara.
Rhodophyta
hanya mempunyai satu kelas yaitu Rhodophyceae dengan anak kelas
Bangiophycidae dan Florideophycidae. Kedua anak kelas dibedakan berdasarkan
pada kelompok. Florideophycidae terdapat noktah sedangkan Bangiophycidae
tidak ada. Tetapi menurut Sabbitthah (1999) sekarang telah ditemukan hubungan
noktah dan pertumbuhan apical pada beberapa anggota dari Bangiophycidae di
salah satu stadium dalam daur hidupnya, yaitu stadium Conchoselis (suatu
stadium filamentik dari Bangiophycidae yang berada di dalam cangkang kerang).
Sebaliknya pada beberapa Florideophycidae, misalnya Delleseriaceae (bangsa
Ceramiales) dan Corallinaceae (bangsa Cjryptonemiales) tidak diketemukan daur
hidup yang trifasik, maka dengan alasan tersebut di atas kedua anak kelas
tadi telah dihapus hingga pembagiannya langsung ke bangsanya (Loveless,
1989).
Ciri-ciri
umum. Alge tumbuh tegak, melekat pada substrat dengan semacam serabut cakram,
warna merah, tinggi kurang dari 10 cm. Thalli mengalami pengapuran yang
tebal, tersusun oleh deretan segmen-segmen berbentuk seperti manik-manik.
Thallus
bulat mengeras permukaan kasar. Membentuk rumpun rimbun dengan percabangan
dichotomus (mendua arah). Melekat pada substrat dengan alat tempel (holdfast)
yang kecil berbentuk cakram. Warna merah muda orange atau kadang-kadang
pirang.
Alga merah dapat menyediakan makanan dalam
jumlah banyak bagi ikan dan hewan lain yang hidup di laut. Jenis ini juga
menjadi bahan makanan bagi manusia
misalnya Chondrus crispus (lumut Irlandia) dan
beberapa genus Porphyra.
Chondrus crispus dan Gigortina mamilosa menghasilkan karagen yang dimanfaatkan untuk penyamak kulit,
bahan pembuat krem, dan obat pencuci rambut. Alga
merah lain seperti Gracilaria
lichenoides, Euchema spinosum, Gelidium dan Agardhiella
dibudidayakan karena menghasilkan bahan serupa gelatin yang
dikenal sebagai agar-agar. Gel ini digunakan oleh para peneliti sebagai
medium biakan bakteri dan fase padat pada elektroforesis gel,
untuk pengental dalam banyak makanan,
perekat tekstil,
sebagai obat pencahar (laksatif), atau sebagai makanan penutup.
4.2 Saran
Sebaiknya pada
pelaksanaan kuliah kerja lapangan lebih di perhatikan spesies-spesies yang
belum pernah di lihat sebelumnya supaya dapat menambah pengetahuan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Taylor, W.
R. 2005. Petunjuk Praktikum Biologi Laut. Jurusan Perikanan. UGM. Yogyakarta.
Aslan, L.
M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius. Yogyakarta.
Bold,
1978. Introduction To The Algae, Structure and Reproduction. New Delhi :
Prentice Hall Of India.
Dawes, C.
J. 1990. Marine Botany A Wiley Interscience. Publication John Wiley &
Sons. New York.
Dodge, J.
D. 1973. The Fine Structure of Algae Cells. Academic Press. London.
Loveless,
A.R. 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 2. PT
Gramedia. Jakarta.
Nontji, A.
1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan, Jakarta.
Nybakken,
J. W. 1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta : PT Gramedia.
Pandey,
S.N. 1995. A Textbook of Algae. Vikas Publishing: Jakarta.
|






Tidak ada komentar:
Posting Komentar